Proses Belajar Mengajar

Museum Nasional

Proses Belajar Mengajar

Proses Pembelajaran Kak Seto School diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Adapun metode yang digunakan:

    1. Paikem. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.
    2. Berbasis Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK). Pembelajaran yang menggunakan TIK untuk mempemudah proses pembelajaran siswa agar siswa jauh lebih kreatif, inovatif, kritis, mandiri dan bertanggung jawab.
    3. Student center learning. Pembelajaran yang merubah fokus pembelajaran dari yang asalnya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa sehingga siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran.
    4. Contextual Teaching Learning. Pembelajaran yang mengarahkan guru memberikan informasi yang sesuai dengan pengalaman siswa dalam berbagai konteks pembelajaran seperti di sekolah, rumah, dan lingkungan.
    5. Project based learning. Pembelajaran yang mengarahkan siswa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam kurun waktu tertentu untuk menyelidiki dan merespon secara otentik, melakukan tindakan dan memberikan jawaban sesuai persoalan atau tantangan.
    6. Discovery/inquiry learning. Pembelajaran dimana siswa dapat mengkolaborasi pengetahuan dan pengalaman baru mereka dengan pengalaman dan pengetahuan masa lalu untuk mengungkapkan fakta dan kebenaran sehingga dapat dipelajari.

Mengapa harus belajar berbasis TIK?

Cara belajar lintas generasi yang berbeda. Pada masa ini, biasa disebut dengan generasi Z atau generasi Alpha yang sudah terbiasa dengan TIK bahkan ketika umur yang masih sangat belia sehingga dibutuhkan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan generasi Z.

Tradisionalis

(1925 – 1945)

Baby boomer

(1946 – 1964)

Generasi X

(1965 – 1980)

Generasi Y

(1981 – 2000)

Generasi Z

(2000 - ...)

#1. Mempercayai logika

#2. Berorientasi pada masa lalu

#3. Menyukai konsistensi dan keseragaman

#1. Suka mendengarkan kuliah

#2. Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman pribadi

#3. Suka belajar di lingkungan yang suportif

#1. Belajar secara cepat dan efisien

#2. Hanya mau mempelajari yang langsung memberikan manfaat

#3. Menyukai waktu belajar yang fleksibel

#1. Suka belajar berkelompok

#2. Memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar

#3. Menyukai experiential learning

#1. Menyukai metode belajar learning by doing

#2. Bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu

#3. Butuh tujuan yang jelas dan feedback yang cepat

Bagaimana proses pembelajaran berbasis TIK di KSS

Pembelajaran berbasis TIK di KSS dilakasanakan berdasarkan empat prinsip dasar:

  1. Kolaboratif. Pembelajaran berbasis TIK dilakukan dalam kelompok dan terbimbing. Sehingga, seluruh pihak yang terlibat dalam pembelajaran baik guru dan staf, orang tua dan wali siswa secara bersama-sama memberikan perhatian pada penggunaan alat pembelajaran berbasis TIK.
  2. Terencana baik. Pembelajaran berbasis TIK akan sangat berguna dan efektif dalam peningkatan pembelajaran jika dilakukan secara terencana dan tidak digunakan dalam waktu yang panjang. Di KSS, misalnya, penggunaan TIK hanya boleh dilakukan tidak lebih dari 20 % dari total pembelajaran.
  3. Ramah anak. Pembelajaran berbasis TIK dilakukan secara interaktif, menyenangkan dan aktif. Sehingga, diharapkan dapat mendorong lahirnya pribadi kreatif dan mandiri pada siswa dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta menyampaikan ide dan pikiran secara baik.
  4. Suportif. Pembelajaran berbasis TIK dilakukan untuk menyediakan dukungan intensif bagi siswa ataupun orang tua dalam memahami materi pembelajaran atau konsultasi kendala pembelajaran ketika berada di sekolah atau di luar sekolah. Sehingga, guru dan staf serta orang tua dan wali siswa dapat berkomunikasi secara intens.

Apakah siswa setingkat SD sudah dapat belajar dengan menggunakan perangkat TIK? Adakah dampaknya?

Ya. Pada dasarnya anak yang lahir di atas tahun 2000 (generasi Z) sudah sangat terbiasa dengan perangkat TIK (gadget) sehingga siswa setingkat SD sudah dapat melakukan pembelajaran dengan menggunakan perangkat TIK.

Berkembangnya TIK, pada dasarnya dapat memberikan dampak negatif dan positif. Perangkat TIK akan memberikan dampak negatif jika anak menggunakannya tanpa kontrol dari orang dewasa dan tanpa disertai penanaman nilai-nilai positif dalam penggunaannya. Namun demikian, perangkat TIK akan memberikan dampak positif jika disertai kontrol yang baik dan penanaman nilai-nilai positif pada anak dalam penggunaannya.