Kurikulum Pembelajaran

Museum Nasional

Kurikulum KSS

Kurikulum yang digunakan adalah di KSS adalah Revisi Kurikulum 2013. Secara substantif kurikulum 2013 mengarahkan pada penguatan karakter, kompetensi dan literasi yang secara umum disebut sebagai Sistem Penguatan Pendidikan Karakter. Sistem Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan melalui tiga tahapan proses sebagaimana berikuti:

  1. Input. Yaitu melalui pengintegrasian tri sentra pendidikan (sekolah, orang tua & masyarakat) ke dalam intra-kurikuler, ko-kurikuler, ekstra-kurikuler dan hidden curriculum (pembiasaan). 
  2. Proses. Yaitu penguatan nilai-nilai karakter melalui olah hati (etika), olah raga (kinestetika), olah pikir (literasi), dan olah karsa (estetika). 
  3. Output (hasil). Membangun generasi emas 2045 dengan dibekali karakter, keterampilan abad 21 dan literasi.

Kurikulum 2013 lebih menekankan pada lima hal utama:

  1. Menggunakan metode pembelajaran aktif. Guru berperan menjadi fasilitator pembelajaran yang membuat siswa menyenangi kegiatan belajar-mengajar. Sebelumnya, guru menjadi pusat pembelajaran.
  2. Proses berpikir siswa tidak dibatasi. Tidak hanya pada tingkat SMA, kini anak SD boleh berpikir sampai pada tahap penciptaan, sesuai dengan kemampuan. Sebelumnya, tahap mencipta hanya untuk siswa tingkat SMA.
  3. Penyederhanaan aspek penilaian siswa oleh guru. Penilaian sosial dan keagamaan cukup dilakukan oleh guru PPKn dan guru pendidikan agama-budi pekerti. Sebelumnya, semua guru harus melakukan penilaian sosial dan keagamaan.
  4. Meningkatkan hubungan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Sebelumnya, KI dan KD tidak terlalu diperhatikan relevansinya.
  5. Menerapkan teori 5 m—mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mencipta. Sebelumnya, lebih ditekankan pada aspek mengingat, memahami dan menerapkan.
  6. Struktur mata pelajaran dan lama belajar di sekolah tidak berubah. Sama seperti kurikulum sebelumnya.